Terkesan Cuek dan Dingin, Berikut 5 Fakta Tentang Orang Convokiller!

Dimaklumin aja deh kalo begini..

Hai Roomers! Apa kabar kalian semua? Aku harap kalian selalu sehat ya di masa PPKM ini πŸ˜€

Pada artikel kali ini, aku mengulas topik yang mungkin cukup familiar jika dilihat dari judulnya. Buat kalian yang belum familiar, mungkin bisa cek tentang artikeku tentang tips menghadapi orang convokiller.

Sebagian besar dari kalian semua pernah berinteraksi dengan orang yang convokiller. Dan sifat mereka jelas terlihat menyebalkan ketimbang menyenangkan.

Bahkan, mereka yang convokiller terkesan kurang welcome dan dingin terhadap orang-orang sekitar. Hal itu membuat kita merutuk dalam hati, “Kapan orang ini berubah” atau “Ih, kok dia engga ngerti susahnya cari topik.”

Tapi, di balik perilaku-perilaku tersebut, ternyata terdapat beberapa fakta yang jarang disadari. Apa saja? Berikut beberapa ulasannya!

1. Kurang mendengarkan lawan bicara dan tidak tertarik

cr: verywellmind.com

Hal yang satu ini terasa saat kita memulai topik pembicaraan, dan mereka hanya merespon seadanya. Mereka juga tidak terlihat menaruh atensi pada topik obrolan.

Hal ini tertera pada artikel di laman Go Natural English. Pada salah satu pointnya menyatakan bahwa seseorang bisa menjadi lawan bicara yang baik jika mendengarkan dan menunjukkan ketertarikan.

Pernyataan tersebut cukup menguatkan bukti jika orang yang convokiller memang kurang mendengarkan dan cenderung tidak tertarik dengan topik yang tersedia.

Dan jika ini terjadi, mungkin ada beberapa dari kita yang merasa jengkel dan terabaikan. Sabar aja deh!

2. Cenderung memotong obrolan

Cr: theintimatecouple.com

Berikutnya yaitu mereka cenderung memotong pembicaraan. Jadi waktu kita lagi cerita tentang sesuatu hal, mereka memotong topik obrolan. Akhirnya, kita engga selesai cerita atau mungkin topiknya dimulai dari awal.

Menyebalkan bukan? Sangat menyebalkan dan membuat kita enggan untuk memulai obrolan jika terjadi hal seperti itu. Namun, ini lah salah satu fakta lain dari orang yang convokiller.

Fakta ini diperkuat dengan point pada artikel di laman Real Men Real Style. Point itu menyatakan jika seorang convokiller tanpa sadar memotong obrolan lawan bicaranya karena terlalu tertarik dengan topik obrolan. Ada yang begini? Kurangi ya!

3. Menggurui lawan bicara

cr: salon.com

Selain itu mereka yang convokiller juga menggurui lawan bicara. Terlibat dengan kata-kata mutiara yang mungkin terdengar mendukung dan membuat sejuk hati kita yang gelisah.

Mungkin, bagi mereka kata-kata mutiara itu terkesan baik karena bisa membuat perasaan lawan bicara sedikit lebih baik. Namun, jika terus diaplikasikan dalam obrolan, hal itu tak lagi terdengar menenangkan.

Dalam arti lain, kata-kata mutiara itu menjelma menjadi nasihat yang seolah menggurui perbuatan dari lawan bicara.

Fakta ini diperkuat dengan point artikel di laman Live Your True Story. Di point kedelapan, sang author menyebutkan bahwa menggurui merupakan cara yang terdengar mendukung, namun sebenarnya, cara itu tak meyakinkan lawan bicara. Justru, cara itu membuat kita meremehkan perasaan lawan bicara.

4. Mendominasi obrolan dengan topik yang paling dikuasai

Dan fakta lainnya yaitu mendominasi obrolan saat mereka menguasai topik tertentu. Hal ini berarti mereka terus melontarkan informasi yang diketahui tentang sebuah topik yang sangat familiar atau mereka pernah berada pada kondisi tersebut.

Paparan informasi yang terlontar memiliki dua dampak yang mempengaruhi kualitas obrolan. Di satu sisi informasi tersebut berguna bagi lawan bicara, namun di lain kondisi, informasi tersebut hanya membuat lawan bicara enggan untuk berkomentar lebih lanjut. Efek dari dampak kedua yaitu percakapan terhenti dan tak berlanjut.

Fakta ini diperkuat dengan salah satu point di artikel laman Gear Magazine. Point tersebut menyebutkan bahwa dominasi dalam percakapan terjadi karena adanya kesamaan pengalaman dari dua orang. Kemudian, hal itu berlanjut pada salah satu dari mereka yang enggan memberikan kesempatan lawan bicaranya untuk berbagi. Dampak terburuk dari perilaku ini adalah perasaan terabaikan dari pihak yang didominasi.

5. Menggunakan satu kata yang sama dalam berkomentar

cr: thatslyf.com

Iya, Engga, Mungkin, Benar, oke, dll

Apa kalian sering mendapat respon singkat di atas? Itu tandanya, lawan bicaranya memang convokiller atau membunuh percakapan. Padahal, kalian sudah berusaha membawa topik yang menyenangkan. Tapi, ini lah salah satu fakta yang tidak terbantahkan.

Mereka yang convokiller memilih respon singkat yang berujung pada matinya obrolan. Terkesan seolah tidak tertarik dengan topik yang sedang diobrolkan. Hal ini telah diulas pada laman Deeptash. Artikel di laman tersebut menyatakan bahwa orang yang convokiller cenderung bereaksi dengan kata-kata yang membuai lawan bicaranya, seperti keren, menyenangkan, seru, dst.

Jika tindakan ini terus dilakukan, maka sekuat apa pun mereka berusaha bertahan pada satu topik obrolan, mungkin lawan bicara mereka yang memilih untuk diam lebih awal karena merasa tidak dihargai.

Nah, list di atas merupakan fakta tentang orang yang convokiller. Memang menyebalkan sih perilaku tak acuhnya, tapi mereka mungkin juga bingung mau berkomentar atau meneruskan obrolan yang seperti apa. Jangan lupa komen dan likenya ya. Thank you udah support and see you on the next post!

Ternyata Ada 2 Jenis Passion ini lho! Sudah tahu?

Bukan sekedar kegiatan yang kalian minati lho!

Hai Roomers! Aku kembali lagi dengan artikel baru nih. Semoga kalian tetap sehat dan selalu enjoy baca listicle di blogku ya πŸ˜€

Di beberapa waktu lalu, aku sudah mengulas tentang pentingnya passion dalam hidup. Di artikel tersebut, aku sudah jabarin beberapa alasan yang menguatkan dan mungkin bisa menggugah hati kalian untuk menemukan passion yang sesuai.

Selain itu, aku juga membahas tentang tips dalam menentukan passion yang pas dalam hidup. Karena, di era globalisasi seperti sekarang, passion sangat dibutuhkan, terutama dalam dunia kerja. Alasannya, karena passion dapat membuat seseorang lebih berhasrat dalam menjalani pekerjaan dan tugas yang diberikan.

Pada postingan kali ini, aku membahas tentang dua jenis passion yang engga banyak diketahui oleh sebagian besar dari kita. Bahkan, aku sendiri pun tau hal ini dari mbah google.

Passion secara umum

Kalau di kalangan umum, kata passion itu erat kaitannya dengan kegiatan yang kita sukai. Bahkan, banyak orang yang beranggapan bahwa passion seseorang identik dengan kegiatan favorit tertentu yang kerap kali dilakukan.

Namun, berdasarkan penilitian psikolog Scott Barry Kaufman, passion memiliki jenis yang berbeda-beda. Hal itu diungkapkan pada artikel di laman Inc.

Jenis-jenis passion

Beberapa jenis passion tersebut di antaranya, passion harmonis dan obsesif. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Berikut perbedaannya:

Passion harmonis: jenis passion yang satu ini membuat kita betah berlama-lama mengerjakan kegiatan yang diminati. Passion ini memiliki pengaruh baik.

Passion obsesif: passion ini bertujuan untuk mencari pengakuan dan pembuktian pada orang lain. Jenis ini memiliki pengaruh buruk dan tidak menimbulkan rasa bahagia dalam diri.

Pandangan pribadi tentang kedua jenis passion di atas

Menurutku, kedua passion tersebut memiliki plus dan minus sendiri. Tapi, dampak yang lebih positif terlihat pada passion harmonis.

Kenapa? Karena jika seseorang berhasrat dalam melakukan suatu kegiatan, dirinya tidak akan mengenal beban atau mengukur seberapa lama ia akan bekerja. Justru, ia menikmati setiap proses yang dilakukan.

Di lain situasi, jika seseorang menginginkan sebuah pengakuan tentang bakat dan keterampilannya. Maka, ia dapat terjebak pada passion obsesif. Mungkin saja ia terlihat sangat tekun dalam menekuni suatu bidang, namun dalam dirinya ia tertekan.

Pengalaman pribadi dengan kedua passion tersebut

Aku pernah mengalami keduanya. Saat aku punya ambisi untuk menerbitkan novel secara self-publish di saat itu lah aku merasakan passion obsesif. Jujur itu lumayan mengganggu.

Untuk passion harmonisnya, aku enjoy dengan dunia menulis (baik itu blog maupun story). Tapi, aku tetap punya tujuan ke depannya bagaimana dan seperti apa.

Saran agar dapat membedakan kedua passion tersebut

Kalian harus lebih peka dengan tujuan dari passion yang dipilih. Kalau kalian merasa popularitas dan menjadi besar karena passion, lebih baik menimbang kemampuan dan tujuan sejatinya sekali lagi.

Karena passion obsesif tak seutuhnya membuat diri kita bahagia. Saat kita menekuni bidang-bidang tertentu, bayang-bayang akan hal-hal yang terlihat sangat baik dan menyenangkan menghampiri. Kita yang awalnya tulus menekuni bidang itu, malah mengincar hasil akhir yang belum tentu sepadan dengan kemampuan.

Nah, itu lah beberapa jenis passion yang jarang diketahui oleh banyak orang. Apa kalian sudah menyadari jenis passion apa yang melekat pada diri? Komen ya!

Thank you banget buat yang masih setia baca artikel di blogku. Semoga aku bisa lebih konsisten dalam menulis dan tentunya dapat menyajikan konten-konten berguna untuk Roomers πŸ˜€

See you on the next post!

Fokus di Bidang E-Commerce disela Rutinitas Menulis

Baca nih buat kalian yang pengen mulai buka usaha kecil-kecilan!

Hai Roomers! Bagaimana kabar kalian semua? semoga selalu bahagia dan sehat ya di tengah kasus covid yang semakin ganas dan tak kunjung selesai ini.

Nah, untuk postingan kali ini, aku mau sharing tentang kegiatanku yang bisa dibilang passion lain di bidang kepenulisan dan mengajar privat. Supaya lebih jelas, ceritanya aku bagi dalam beberapa bagian.

Asal mula passionku di bidang E-Commerce

Singkat cerita, aku nemuin passion di bidang E-Commerce sekitar 2 tahun lalu. Waktu tersebut adalah waktu dimana aku masih fokus mengajar privat dan belum memulai blogging serta menulis di platform.

Tapi, di sela kegiatan mengajarku, aku merasa kaya butuh lebih banyak pemasukan. Maka dari itu aku mulai cari cara dengan browsing di internet.

Akhirnya, aku nemuin usaha dropship, usaha dengan sistem yang menyerupai reseller. Tapi, yang membedakan dropship dan reseller itu cuman pada stock barangnya. Untuk hal keuntungannya sama persis (menaikkan harga barang dari supplier).

Apa motivasiku agar fokus di bidang E-Commerce?

Sebenarnya, di awal aku mulai terjun di bidang ini motifnya cuman agar mendapat penghasilan tambahan. Tapi, hari berganti hari, aku nemuin motivasi lainnya.

Salah satunya yaitu, memiliki toko online sendiri di salah satu platform marketplace, Tokopedia. Selain itu, aku juga mengharapkan kalau usaha kecil-kecilan ini bisa permanen dan menjadi usaha yang berkembang.

Tapi, terlepas dari motivasi-motivasi di atas, aku masih berusaha dengan beragam cara agar punya start yang bagus di bidang ini.

Subyek yang digunakan untuk berjualan di Toko Online

Kalau bicara soal subyek, aku sudah pernah riset beberapa, salah satunya jual sepatu sandal. Tapi, menurutku subyek itu terlalu beresiko ke kasus penipuan. Ditambah lagi profitnya juga biasa aja (engga sampai jutaan).

Riset berikutnya yaitu bahan kue yang brandingnya aku kasih nama Readyto Bake. Subyeknya tentang bahan-bahan yang digunakan untuk mengelola kue, cookies, dan apa pun yang berkaitan dengan bakery.

Alasan kenapa aku pilih bahan kue sebagai subyek karena di masa pandemi seperti ini, pengusaha kuliner atau pun yang baru mulai pasti butuh bahan-bahan untuk mengelola dagangannya. Memang kelihatannya engga mudah, tapi tetap harus konsisten supaya stabil dan sukses.

Resiko yang dialami selama berjualan online

Usaha dalam bentuk apa pun pasti memiliki resiko, sama halnya dengan usaha yang baru aku jalanin. Resiko yang aku alami selama jualan mengarah kepada ongkos kirim ke supplier yang berbeda dengan ongkos yang dibayar oleh pembeli.

Resiko lainnya yaitu dana yang seharusnya masuk ke tokopediaku tertahan kalau nomor resinya engga valid atau tidak terlacak. Hal itu sempat buat aku rada kesal sih, soalnya engga semua ekspedisi bekerja sama dengan Tokopedia.

Tapi sesulit apa pun jualan, aku tetap berusaha konsisten dan teratur upload foto produk. Tentunya, hal ini juga diimbangi dengan konsentrasi penuh pada toko dibanding profit.

Saran untuk yang mau mulai bisnis online

Yang pertama, kalian harus berani mencoba dan berani ambil resiko. Karena engga cuman dagang offline yang main modal, jualan online juga bermain dengan uang.

Berikutnya, jangan tergiur akan profit yang tinggi. Kenapa? Soalnya kalau belum apa-apa kalian mikir profit, yang ada kalian engga mulai jualan. Terus mikirin untung ruginya dan akhirnya engga jadi πŸ˜€

Yang terakhir, kalian harus mempertahankan passion dalam berjualan. Jangan gampang down kalau barangnya belum laku.

Nah itu dia cerita singkatku tentang fokus menjalankan usaha di bidang E-Commerce. Apa kalian punya pengalaman serupa? Boleh dong sharing dan tulis di kolom komentar πŸ˜ƒ

Buat yang suka banget sama konten-konten di blogku jangan lupa follow atau subscribe lewat email biar kalian bisa tau kalau ada konten terbaru dari blogku 😁

Selebihnya, aku pamit dan thank you udah setia mampir dan baca-baca. See you on the next post!

Wajib Diperhatikan, Berikut 5 Tips untuk Menggalih Passion yang Pas!

Pas banget buat kalian yang masih bingung tentang passion!

Hai semuanya, aku kembali dengan listicle baru nih. Semoga semuanya tetap sehat dan bahagia ya πŸ˜€

Dalam hidup ini, tentunya semua orang memiliki harapan dan mimpi tersendiri. Harapan mereka tertuang dalam beragam wujud, salah satunya adalah passion.

Passion itu apa sih? Kok kayanya di beberapa hal kita sering mendengar kata itu. Ada yang bilang Passion itu sesuatu yang kita sukai alias hobi. Namun, hal tersebut tidak sepenuhnya benar.

Menurut Marketeers, passion diartikan sebagai perasaan yang sangat kuat seseorang pada sesuatu. Jika ditilik dari pengertian tersebut, secara umum, passion merupakan suatu perasaan yang bersifat alamiah dan lebih kuat dibanding hobi.

Terlepas dari hal di atas, passion dapat ditemukan ketika kita melakukan sesuatu, misalnya menggeluti hobi-hobi tertentu. Tapi, tak semua kegemaran dapat mendatangkan passion yang sesuai.

Maka dari itu, dibutuhkan segelintir cara agar dapat memperoleh passion yang pas. Berikut beberapa caranya!

1. Kenali hobi yang akan ditekuni

Pertama, kita butuh mengenali hobi yang akan ditekuni. Hal ini penting untuk dilakukan terlebih dahulu karena permulaan dari passion adalah hobi atau kesukaan.

Namun, yang namanya kesukaan, tentunya tak hanya sekedar satu atau dua hal. Pastinya, ada beberapa gambaran yang muncul jika berbicara soal kegemaran. Mulai dari yang sederhana sampai yang menantang, pilihan-pilihan tersebut tentunya membuat kita semua menghadapi dilema.

Maka dari itu, kita harus mengenali hobi yang akan ditekuni. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menelaah sesuatu yang sering dibicarakan. Metode ini dilansir pada laman Clever Girl Finance. Salah satu point pada artikel di laman tersebut menyebutkan bahwa salah satu cara untuk menentukan passion dalam hidup dengan menelusuri setiap topik yang kita bicarakan. Setelahnya, kita dapat mengumpulkan topik dalam satu daftar.

2. Menelusuri solusi konkret dari passionmu

Berikutnya yaitu, mencari tahu tentang solusi dari passionmu. Solusi di sini mengarah pada hasil final dari kegiatan yang dilakukan. Solusi ini bukan hanya sekedar sesuatu yang menjadi bukti nyata, tetapi sungguh dibutuhkan dan berguna bagi orang lain.

Sebagai contoh, seorang dengan hobi menggambar. Tentunya cukup passionate dalam menekuni bidang dengan permainan warna dan goresan pada kanvas. Solusi yang mereka tawarkan dapat berupa produk jasa atau menjual lukisan secara offline atau online.

Pernyataan ini didasarkan pada salah satu point di artikel di laman Ramsey Solutions. Point tersebut menyatakan bahwa passion tidak datang dari sesuatu yang spesifik. Namun, passion hadir dari solusi yang spesifik.

3. Fokus pada satu tujuan

Tips berikutnya yaitu berfokus pada satu tujuan. Bagi kalian yang memiliki beragam tujuan dalam mencari passion, lebih baik direview kembali. Pasalnya, untuk menentukan passion yang tepat, dibutuhkan satu tujuan yang jelas.

Alasan dari pernyataan di atas yaitu agar kalian dapat meraih hasil akhir yang diinginkan. Point ini diperkuat dengan pernyataan pada artikel di laman Soulsalt.

Point itu mengungkapkan bahwa mempersempit arah dan memilih salah satu dari sekian aspirasi adalah saran penulis. Hal tersebut dilakukan agar hasil yang diinginkan dapat tercapai.

4. Mendengarkan kata hati

Selain tujuan yang jelas, hal penting yang berperan dalam menentukan passion yang pas yaitu kata hati. Kenapa harus kata hati? Kok bukan kata orang-orang? Karena kata hati kita didasari oleh perasaan terhadap sesuatu yang dirasakan. Alasan tersebut hampir serupa dengan pengertian passion.

Pernyataan ini didukung oleh artikel pada laman Pick The Brain. Salah satu point pada artikelnya menyatakan bahwa hati kita jauh lebih mengerti dibanding pikiran kita sendiri. Oleh sebab itu, mendengarkan kata hati disarankan meski ada beberapa ketakutan yang menghadang.

5. Tanyakan beberapa pertanyaan khusus dalam diri sendiri

Hal lainnya yaitu menanyakan beberapa pertanyaan terkait dengan passion yang kita geluti. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dilihat pada laman Jessica DW.

Daftar pertanyaan pada laman tersebut dirancang sesuai dengan pengalaman hidup sang penulis. Tujuan utama dari menggunakan pertanyaan tersebut adalah agar kita bisa berhenti sejenak dan meneliti setiap jawaban tentang passion yang dicari.

Nah seperti itu lah beberapa cara untuk menemukan passion yang pas dalam hidup. Bagaimana menurut kalian? Membantu atau ada saran lain? Kalian bisa drop masukan dan pendapat di kolom komentar ya.

Sebelumnya thanks banget buat yang masih setia mengunjungi blog ini. Memang belakangan aku sedikit terpecah fokusnya dalam mengurus blog ini (mungkin di postingan lain aku jelasin). See you on the upcoming post! πŸ˜€

Sederhana namun Penting, 6 Alasan Berikut Menunjukkan Pentingnya Passion dalam Pekerjaan!

Makanya jangan remehin passion seseorang…

Hai Roomers, aku kembali lagi nih nulis listicle yamh kalian tunggu πŸ˜€

Sebelumnya, aku mau minta maaf kalau updateannya agak telat. Belakangan, aku rada kena writer’s block, tapi engga sampai parah sih.

Nah, sebagai pembuka nih, aku akan bercuap-cuap ria tentanh passion. Istilah yang cukup populer tersebut kerap kali dihubungkan dengan kesukaan dan hobi setiap orang.

Namun, jika ditilik lebih dalam, passion memiliki arti yang lebih signifikan dibanding hobi. Dilansir pada Finansialku, passion memiliki beberapa arti, salah satunya yaitu sesuatu yang kita kerjakan dengan ikhlas tanpa paksaan dan panggilan dari alam bawah sadar.

Lalu apa bedanya passion dengan hobi? Ini lah, keunikannya, secara umum, hobi lebih mengarah pada sesuatu yang dilakukan saat waktu luang, sementara passion dapat dilakukan lebih lama. Hal ini diperkuat dengan artikel di laman Talenta.

Bersamaan dengan perbedaan pengertian di atas, listicle kali ini akan menjabarkan alasan pentingnya memiliki passion yang sesuai dalam pekerjaan. Berikut beberapa ulasannya!

1. Dapat meningkatkan kemampuan untuk berkontribusi

Dengan memiliki passion, kalian dapat mengasah kemampuan dalam berkontribusi terhadap suatu proyek. Kalian akan berusaha untuk melakukan terbaik agar apa yang dirancang dapat mencapai goals.

Pernyataan di atas didukung oleh artikel di laman New Straits Times. Salah satu statemennya menyatakan bahwa memiliki passion dapat membuat kita berhasrat untuk sukses sehingga kita pun berusaha untuk berkomitmen utuh pada apa yang dilakukan.

2. Pekerjaan menjadi lebih menyenangkan

Selain itu, passion juga membuat pekerjaan kalian menjadi lebih menyenangkan. Hal ini disebabkan oleh passion terhadap suatu bidang yang dapat memotivasi pelakunya.

Seperti yang dilansir pada laman The Nest, mengerjakan sesuatu yang ditekuni dapat membuat pekerjaan terasa menyenangkan. Di samping itu, kalian juga dapat memotivasi sesama dan terhindar dari beban atau stress.

3. Gigih dalam menghadapi masalah

Memiliki passion juga dapat menumbuhkan rasa gigih saat menghadapi masalah. Kalian tentunya cukup familiar dengan beberapa orang yang tidak terlalu tangguh dalam mengatasi masalah. Gigih atau tidaknya seseorang dalam hal itu merupakan peran dari adanya passion dalam diri mereka.

Menurut artikel pada laman Investopedia, passion merupakan aspek penting dalam hal pekerjaan dan karir. Alasannya adalah orang yang memiliki pasien akan cenderung lebih tabah dalam menangani masalah daripada hanya sekedar mencari income atau pendapatan.

4. Lebih fokus pada tujuan yang spesifik

Tujuan yang spesifik merupakan hasil akhir dalam mengerjakan sesuatu. Terkadang, hal ini tidak terlalu dipikirkan oleh sebagian orang di dunia kerja. Mereka hanya terfokus pada profit yang sebenarnya hanya sebagian kecil dalam proses kerja dan menghasilkan sesuatu.

Namun, jika passion disatukan dalam urusan pekerjaan, seseorang tak lagi terlalu mementingkan profit. Ia akan lebih bisa melihat fokus yang spesifik dan progress pekerjaan yang ditekuninya.

Pernyataan di atas didukung oleh artikel pada laman Tempstar Staffing. Pada artikel itu dinyatakan bahwa passion adalah bahan bakar yang menginspirasi dan membawa banyak orang menuju tujuan yang spesifik terlepas dari kesulitan yang ada.

5. Meningkatkan kepercayaan diri

Selain manfaat-manfaat di atas, memiliki passion dalam pekerjaan juga dapat meningkatkan rasa percaya diri. Hal ini sangat menguntungkan karena passion dapat membuat diri kita yakin akan kemampuan yang dimiliki.

Seperti yang dilansir pada laman Areaworks, memiliki passion dapat membuat kita merasa lengkap, dan hal itu merupakan aspek untuk meningkatkan rasa percaya diri.

Wah cukup menarik ya faktanya!

6. Keluar dari zona nyaman

Siapa pun tentunya menyukai zona nyaman dalam bekerja. Namun, hal ini tak terlalu dipentingkan oleh mereka yang memiliki passion dalam bekerja.

Justru, dengan passion yang ada, mereka dapat keluar dari zona nyaman. Mereka melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda yang lebih positif. Bahkan, mereka pun tidak keberatan untuk mempelajari banyak hal baru.

Pernyataan tersebut didukung oleh artikel di laman Peoplekeep. Pada salah satu pointnya disebutkan bahwa karyawan dengan passion dapat keluar dari zona nyaman dan banyak belajar. Melalui hal itu lah mereka sadar tentang perkembangan yang dihasilkan melalui kegiatan yang dilakukan.

Nah, melalui listicle ini akhirnya kita semua tau bahwa passion dalam pekerjaan sangat penting. Tapi, mungkin engga semua dari kita sadar akan hal ini karena pandangan yang berbeda.

Buat kalian yang setuju dengan pendapat di listicle ini, kalian bisa komen dan curhat ya. Thank you buat roomers yang masih setia baca artikel di blogku ini. See you on the next post!

Hidup itu Perubahan yang Irreversible

perubahan dalam hidup bukan untuk disesali…

Hai Roomers! Aku balik lagi dengan listicle terbaru nih πŸ˜€

Kali ini lebih mengarah pada renungan tentang kehidupan. Renungan ini juga dikaitkan dengan perubahan irreversible. Sebelum membahas inti dari topik ini, aku jelaskan terlebih dahulu tentang arti irreversible.

Apa itu irreversible?

Menurut Kamus Bahasa Inggris Indonesia, irreversible diartikan sebagai keputusan yang tidak dapat diubah lagi.

Keputusan tersebut ibarat senyawa kimia yang tercampur dengan senyawa lain dan menghasilkan senyawa baru. Hal itu tentunya sangat familiar bagi kita semua, khususnya di bidang kimia dan fisika.

Apa hubungannya dengan hidup?

Relasi irreversible dan hidup tentunya tidak begitu disadari oleh semua orang. Mayoritas dari mereka mungkin memandang hidup sebagai fase yang dinamis.

Namun, untuk sebagian orang (termasuk aku), hidup itu irreversible. Hal tersebut berarti hidup adalah sebuah fase yang tak dapat dikembalikan seperti semula.

Kita terus merasakan beragam macam peristiwa dan perubahan di sekitar kita. Berbagai emosi dan asumsi turut terlibat di dalamnya. Bahkan, terkadang, ada tindakan yang terlanjur diambil tanpa dipikirkan secara matang.

Bagaimana cara menyikapinya?

Hidup yang irreversible cukup disikapi dengan sabar, lapang dada, bekerja keras dan bersyukur. Setidaknya beberapa sikap tersebut dapat membuat kita lebih tenang.

Cr: dogtrainingobedienceschool.com

Seperti pada quotes yang tertera, kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menjalani hidup. Kita nikmati apa yang sedang terjadi, senang maupun susah.

Jika ada kepahitan dalam hidup, hendak lah kita ambil nilai positifnya dibanding mengeluh. Why? Karena mengeluhkan sesuatu bukan solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah.

Memang hidup ini banyak masalah meski terus berubah, tapi apa boleh seumur hidup terus mengeluh? Mengeluh hanya membuang waktu dan tenaga.

Point terpenting dalam menjalani hidup ini adalah sikap yang membuat diri kita merasa lega dan tidak tertekan. Bukan hanya sebatas soal kesenangan dan harta semata.

Alasan mengapa harus menyikapi hidup yang irreversible?

Ada beberapa alasan untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, adanya beragam tantangan dalam hidup. Beragam tantangan di hidup ini terbilang susah untuk diprediksi. Maka dari itu, kita harus menyikapinya dengan bijak. Jangan terlalu menjadikan hal tersebut sebagai beban.

Yang kedua, bersangkutan dengan orang-orang di sekitar. Masing-masing dari kita bersosialisasi dengan individu lain dan menjalin relasi. Kita perlu mempelajari dan mengambil point penting dari kejadian yang telah dialami oleh orang lain.

Yang terakhir, karena kita punya prinsip tertentu dalam menjalani hidup. Jika kita sudah menetap pada sebuah prinsip hidup, tentu kita berusaha selaras dengan pandangan tersebut.

Terus gimana buat yang engga punya prinsip hidup? Mereka tetap bisa menjalani kehidupan yang terus berubah dalam cara yang telah ditulis pada artikel ini. Tapi, untuk praktik sehari-harinya mungkin sedikit berbeda di mata mereka.

Sekian kicauanku tentang hidup yang irreversible. Mohon maaf bila terjadi kesalahan ketik atau pemilihan kata. Sampai jumpa di artikelku yang lain. Have a nice day πŸ˜€

Berliku sekaligus Berwarna, 5 Ilustrasi tentang Quarter Life Crisis ini mampu Menyadarkan Kita tentang Kehidupan yang Bermakna!

ada kah yang pernah mengalami beberapa dari ilustrasi ini?

Hai Roomers! Aku kembali dengan tema ilustrasi nih. Semoga kalian suka dengan kontennya ya πŸ˜€

Ilustrasi kali ini masih berhubungan dengan Quarter Life Crisis (QLC). Mungkin pada beberapa ulasan di artikel ini ada yang menyindir atau menyinggung bagi sebagian orang. Namun, hal tersebut bukan lah hal yang disengaja.

Seperti yang telah dibahas dalam artikel fakta tentang QLC, ilustrasi yang akan dibahas berkaitan dengan situasi dan kondisi yang dirasakan oleh orang yang mengalami.

Bersama dengan ulasan ilustrasi ini, kita dapat melihat dari sudut pandang lain tentang fase yang dialami oleh orang-orang di pertengahan 20an. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa fase QLC dapat dilewati dengan menyenangkan meski terasa sulit.

Terlihat sulit namun menyenangkan, berikut beberapa ulasannya!

1. Terlalu merujuk pada pencapaian orang lain di sosial media, Kita pun menginginkan hal serupa, namun setiap orang memiliki alur cerita berbeda.

cr: thetab.com

2. Pencapaian orang lain belum tentu membuat kita bahagia. Mengikuti jejak prestasi orang lain hanya membuat kita semakin tak mengenal diri sendiri.

cr:yaledailynews.com

3. Kehilangan tujuan membuat kita semakin dilema melihat kondisi orang lain yang lebih baik. Padahal kalian hanya butuh motivasi tetap.

Cr: studybreaks.com

4. Di satu sisi, kalian tetap bisa menekuni hobi yang menyenangkan. Hal itu dapat menciptakan ketenangan diri saat mengalami fase seperempat kehidupan.

cr: pikaland.com

5. Banyaknya pikiran karena fase QLC juga membuat kita berpikir akan kehidupan saat masih kanak-kanak.

cr: theodysseyonline.com

Itu lah beberapa ilustrasi dari fas QLC. Dari beberapa gambar di atas, tentunya kita dapat merefleksikan bagaimana fase ini dapat membentuk pribadi banyak orang menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan lupa tinggalin komentar πŸ˜€

7 Hal yang Harus Dilakukan dalam Melewati Quarter Life Crisis, Dicatat ya!

Sosial Media juga berpengaruh lho..

Hai Roomers! Aku harap kalian selalu sehat dan produktif ya. Aku bawa listicle lagi nih πŸ˜€

Tema listicle ini masih berkaitan dengan fase Quarter Life Crisis yang kerap dialami oleh kaum millenial. Fase tersebut sangat familiar, namun hanya beberapa orang yang mengetahui beragam faktanya.

Seperti yang telah diketahui, fase QLC menyebabkan beragam ketakutan, seperti karir, status pernikahan, dan tujuan hidup yang sebenarnya. Hal-hal tersebut kerap menganggu dan menyebabkan rasa insecure yang berlebihan.

Maka dari itu, pada artikel ini, terdapat beberapa hal yang harus dilakukan dalam melalui fase QLC. Berikut beberapa ulasannya!

1. Tidak memeriksa sosial media terlalu sering

cr: everydaypower.com

Di jaman serba digital ini, sosial media menjadi sebuah prioritas bagi kebanyakan orang. Beragam aktifitas dan pencapaian dibagikan sebagai bukti aktualisasi diri dan ajang popularitas.

Namun, terlepas dari hal tersebut, ada beberapa atau sebagian orang yang sedikit terganggu dengan kebiasaan itu, khususnya orang yang mengalami fase QLC. Mereka yang terdistraksi biasanya cenderung membandingkan pencapaian diri sendiri dengan apa yang tersebar di sosial media milik teman atau rekan kerjanya.

Jika hal itu terus dibiarkan, maka akan timbul depresi dan fase QLC tidak dapat dilewati dengan tenang. Oleh sebab itu, sangat dianjurkan untuk tidak memeriksa media sosial terlalu sering. Karena melihat hasil pencapaian itu tentu membuat kalian merasa bahwa teman atau rekan kerja telah melangkah lebih jauh. Hal itu juga memungkinkan kalian merasa tertinggal.

Pernyataan di atas didukung oleh salah satu point pada artikel di laman Rencanamu. Salah satu point pada artikel itu menyatakan bahwa setiap orang memiliki keberhasilan dan kesuksesan sendiri, dan tidak seharusnya pencapaian yang dibagikan menurunkan motivasi dalam berusaha.

2. Kenali tujuan hidup

Cr: verilymag.com

Berikutnya yaitu kalian harus menentukan tujuan hidup. Tujuan hidup di sini mengacu pada sesuatu yang sungguh dicari. Bukan hanya sekedar tujuan atau motif seperti yang biasa muncul dan diupayakan tanpa cara yang tepat.

Pernyataan di atas didukung oleh statemen pada artikel di laman Berkeluarga. Statemen tersebut menyatakan bahwa menentukan tujuan dapat memotivasi diri agar fokus dengan tujuan tersebut.

3. Terbuka pada perubahan situasi dan hubungan

cr: ownmygrowth.com

Seiring berjalannya waktu, situasi dan hubungan pun berubah. Hal itu akan membuat kalian bertanya-tanya. Mendadak, kalian merasa kebingungan dan serasa ditinggalkan.

Jika sudah seperti itu, kalian disarankan untuk lebih terbuka terhadap perubahan situasi dan hubungan. Hal itu mungkin terasa berast, namun patut untuk dilakukan. Pasalnya, kalian engga mungkin terus-menerus terpuruk dengan kesendirian atau kesepian.

Hal tersebut didukung dengan pernyataan pada laman Studilmu. Artikel di laman itu menyatakan bahwa kehidupan yang realistis selepas masa kuliah membuat kita semua sadar akan hilangnya teman-teman secara perlahan. Mereka mulai fokus mengejar tujuan dan cinta sehingga kita pun merasa sendiri. Maka dari itu be open-minded ya!

4. Menggalih potensi lain dalam diri

cr: careerpivot.com

Berikutnya, kalian juga bisa menggalih potensi lain dalam diri. Hal ini dapat dilakukan dengan mencoba beberapa hobi lain yang belum pernah dilakukan. Tujuannya adalah agar segala ketakutan kalian akan masa depan teralihkan.

Fakta ini didukung oleh artikel pada laman Hipwee. Salah satu point menyebutkan bahwa aktivitas baru dapat membuat seseorang menjadi lebih produktif dan melupakan kegelisahan tentang masa depan. Selain itu, aktivitas baru juga dapat membanyu seseorang berpikir lebih positif. Jadi, jangan takut untuk memulai hal baru ya, Roomers!

5. Menikmati proses yang berlangsung

cr: adventago.com

Terkadang kalian mungkin merasa situasi saat ini bukan lah waktu yang menyenangkan karena terbelenggu oleh kegelisahan akan masa depan. Namun, jangan jadikan hal itu sebagai sebuah penghalang dalam menikmati hidup. Setidaknya, kalian bertahan dan menikmati proses yang sedang berlangsung.

Seperti yang diulas pada laman Matain. Dalam laman tersebut menyatakan bahwa segala sesuatu memiliki proses dan ada kalanya kita membiarkan semua berjalan apa adanya.

6. Bersyukur dengan apa yang dimiliki

cr: cardinalpath.com

Selain hal-hal yang sudah disebutkan, kalian juga jangan lupa untuk bersyukur dengan apa yang dimiliki. Karena tidak semua orang berada pada kondisi yang kalian alami. Bahkan, kondisi yang dialami oleh orang-orang di sekitar mungkin berbanding terbalik dan di luar dugaan.

Oleh karena itu, kalian harus bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini. Karena dengan begitu kalian bisa lebih ikhlas dan berlapang hati dalam menjalani hidup. Hal ini serupa dengan ulasan pada laman Cakap.

Salah satu pointnya menyatakan kunci dalam mengatasi QLC adalah dengan menerima apa yang dimiliki dan jangan mengeluh. Karena mengeluh hanya akan membuat diri sendiri terjebak pada kondisi yang sama.

7. Jangan menaruh harapan lebih

cr: yourquote.in

Yang terakhir, kalian tidak seharusnya menaruh harapan secara berlebihan. Berharap lebih hanya menimbulkan rasa kecewa yang dapat membuat motivasi kalian dalam melakukan sesuatu semakin menurun.

Point ini diulas berdasarkan artikel pada laman Mojok. Artikel tersebut menyebutkan bahwa kita harus mengatur ekspektasi dan tidak perlu terlalu berharap terhadap sesuatu yang baru dimulai.

Sekian pembahasan tentang hal-hal yang harus dilakukan dalam menghadapi fase QLC. Jangan lupa like dan komennya. See you on the next post!

5 Fakta tentang Quarter Life Crisis, Ragam Kekhawatiran Di Usia 20 Tahunan

bukan kekhawatiran yanv wajar, segera sadari ya!

Hai Roomers! Aku harap kalian selalu sehat dan bahagia. Aku balik lagi nulis listicle nih πŸ˜€

Tema dari listicle kali ini cukup akrab dengan kondisi para dewasa muda saat ini, Quarter Life Crisis. Aku yakin beberapa dari kalian juga sudah familiar dengan istilah tersebut. Tapi, sebagian besar orang mungkin masih bertanya-tanya tentang arti dari istilah di atas.

Arti dari Quarter Life Crisis

Jika dilihat dari segi teori yang dilansir pada Amartha, Quarter Life Crisis adalah keadaan psikologi yang dialami oleh orang-orang yang berusia 20-an.

Pada laman tersebut, disebutkan bahwa kondisi psikologi ini ditandai dengan munculnya rasa minder, bingung, kecewa, stress, dan tidak merasa bahagia dengan apa yang dijalani.

Namun, di beberapa laman, seperti Kejar Mimpi menyatakan bahwa fase Quarter Life Crisis dialami oleh orang dengan kisaran umur 25 tahun.

Jadi, fase QLC ini dialami oleh kaum yang berusia 20-an ke atas. Fase tersebut menimbulkan beragam kecemasan akan masa depan.

Kalau ditanya apa aku mengalami hal tersebut, aku terang-terangan mengiyakan. Karena engga mungkin aku merasa tenang dengan masa depan dan kehidupan sekarang. Kurang lebih, ada lah beberapa ketakutan yang terlintas di benakku belakangan ini.

Selain pengertian di atas, aku juga akan mengulas beberapa fakta tentang QLC. Fakta-fakta tersebut mayoritas berkaitan dengan psikologi dan berdampak pada kesehatan mental. Berikut beberapa faktanya!

1. Memiliki 2 jenis solusi berbeda

cr: allbussiness.com

Fakta ini berkaitan dengan solusi yang tepat untuk menghadapi fase QLC. Sepintas, solusi untuk masalah ini terdengar sepele dan sederhana. Namun, cara untuk menghadapinya tak sama dengan cara dalam mengurangi stress pada umumnya.

Menurut beberapa ahli, solusi ini terdiri atas beberapa jenis. Seperti yang dilansir pada laman Aido, Dr. Olicer Robinson menyatakan bahwa untuk mengatasi QLC dibutuhkan 2 kunci yaitu tipe locked-in dan locked-out. Keduanya memiliki tahap berbeda.

Masih di laman yang sama, pada tipe locked-in, kita akan melalui tahap locked-in, status quo, trying new things, dan resolution. Sedangkan, pada tipe locked-out, kita akan melalui tahap fire up, locked-out, reflective pause, dan rescaling and resolution.

2. Karir adalah penyebab ketakutan terbesar dalam fase QLC

cr: theladders.com

Kalian pernah atau sering merasa insecure dengan karir yang dijalani? Atau mungkin kebingungan akan langkah ke depannya?

Hal tersebut merupakan sebuah wujud ketakutan yang dialami dalam fase QLC. Pernyataan itu berdasarkan penelitian yang dilansir pada laman Evoke.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa adanya 3 penyebab utama daru ketakutan yang dialami oleh orang-orang di UK sebelum berusia 27 tahun. Ketiga penyebab itu antara lain, keraguan tentang karir di masa depan, ketidakmampuan untuk melangkah di tangga kesuksesan, dan tekanan untuk menikah atau memiliki anak.

3. Beberapa gejalanya terkadang tidak disadari

cr: lonerwolf.com

Timbulnya rasa takut pada fase QLC cenderung disalahartikan sebagai kekhawatiran yang biasa. Padahal, gejala-gejala yang ditimbulkan pada fase tersebut cukup serius.

Terkait dengan hal di atas, ada beberapa gejala yang jarang dikenali seperti pada artikel di laman Gramedia. Beberapa gejala tersebut antara lain terlalu banyak pilihan, tidak bisa menentukan pilihan, kebingungan, cemas, dan pasrah.

Mungkin gejala yang telah disebutkan terdengar sederhana bagi sebagian orang. Namun, tidak seharusnya hal itu diabaikan atau diremehkan. Jadi, lebih peka ya!

4. Faktor lingkungan juga merupakan pemicu timbulnya QLC

cr: steemit.com

Selain karir, faktor lain yang mendukung timbulnya QLC adalah lingkungan. Faktor ini pun terbagi dalam beberapa bagian, seperti lingkungan sosial atau kerja.

Hal tersebut didukung dengan artikel pada laman Greatdayhr. Pada artikel itu disebutkan bahwa QLC dapat timbul karena beberapa faktor seperti frustasi terhadap lingkungan kerja, lingkungan sosial yang kompetitif dan pengaruh dari media sosial.

Kalau aku pribadi setuju aja dengan artikel dari laman di atas. Alasannya, karena kita susah untuk lepas dari perbandingan dari individu yang lain. Terutama waktu kita melihat pencapaian orang-orang lewat media sosial. Seperti engga ada habisnya untuk engga merasa minder atau membandingkan.

5. Optimis menatap masa depan adalah jalan terbaik untuk melewari fase QLC

cr: success.com

Fakta yang terakhir yaitu tentang rasa optimis sebagai solusi terbaik dalam melewati fase QLC. Memang ada sekian banyak solusi, tapi salah satunya yang terbaik adalah rasa optimis.

Karena dengan memiliki rasa tersebut, kalian engga lagi terlalu khawatir dengan beragam hal. Kalian hanya perlu menanamkan pikiran positif tentang masa depan yang dijalani.

Solusi ini juga diulas pada artikel di laman Edutore. Artikel itu menyatakan bahwa percaya pada masa depan akan membuat kalian termotivasi untuk melakukan yang terbaik untuk hidup yang lebih baik.

Nah, itu lah beberapa fakta dari fase QLC yang cukup dikenal oleh kalangan millenials. Meski rasanya mengganggu dan engga mengenakkan, fase QLC merupakan hal yang dapat membuat kita jauh lebih dewasa dan berpikir realitis. Jadi, buat kalian yang sedang mengalami, jangan patah semangat ya!

See you on the next post! Thank you buat yang masih stay tune dan mampir.

Awetnya Persahabatan di tengah Perubahan Kondisi dan Usia

Tak banyak yang berubah kecuali usia dan kondisi..

Hai Roomers! Semoga kalian sehat selalu di masa pandemi yang masih setia menemani. Be happy as always 😊

Pada kesempatan ini, aku mau share tentang reuni dengan teman SMA-ku beberapa waktu lalu. Alasan kenapa aku mau open tentang ini, karena moment ini terbilang langka dan sudah sangat lama tidak bertemu dengan teman sekelas (sekitar lebih dari 3 tahun).

When and How did it happen?

Reuni ini diadakan pada tanggal 19 Januari 2021 (Selasa). Sebenarnya, aku engga ada planning jelas untuk ketemuan sama teman-teman SMA.

Tapi, karena di hari Senin (18/1), aku dapat calling mendadak dari salah satu teman SMA, aku langsung deal. Memang terdengar mendadak, tapi aku merasa acara itu penting.

Pentingnya acara ini juga disebabkan oleh rutinitas dan kesempatan waktu yang beragam dari aku dan teman-teman. Jarang-jarang buat mereka bisa kumpul dan ketemuan (meski hanya 6-7 orang).

What did we do?

Kegiatan reuni diawali dengan makan di salah satu restoran yang beroperasi di Tunjungan Plaza. Restoran itu terbilang baru dan cukup viral untuk saat ini.

Bagi kalian yang stay di Surabaya dan cukup update dengan beberapa restoran di TP, tentunya familiar dengan Haidilao Hotpot Restaurant.

cr: techinasia.com

Restoran asal Sichuan tersebut menyajikan menu sup yang dapat dilengkapi dengan daging, jamur, sayur, atau pun mie. Di samping itu, restoran ini juga menyuguhkan atraksi noodle dancing yang cukup me yita perhatian pengunjung.

Selagi menikmati makan malam, kita juga bertukar cerita dan gurauan. Rasanya, masih seperti 10 tahun yang lalu, saat dimana kami masih duduk di bangku SMA.

Tapi, kondisi dan situasi yang membedakan adalah beberapa dari kami sudah menikah atau memiliki pacar. Sedangkan, secara mayoritas, kami menitih karir di bidang yang digeluti.

Setelah menuntaskan makan malam, kami juga pergi ke salah satu cafe yang terletak di jalan Basuki Rachmat, TGC Coffee.

cr: coffeetgc.com

Di cafe itu lah, kami kembali melayangkan beragam gurauan dan cerita. Meski hanya ditemani beberapa minuman dan camilan, reuni tersebut terasa menyenangkan.

Selain mengobrol, kami juga berfoto bersama di dua tempat tersebut.

Saat di Haidilao 1
waktu semuanya kumpul πŸ˜€
Di TGC Coffee

Melalui reuni ini, aku merasa waktu begitu cepat berlalu. Namun, karakter dan sifat satu sama lain tak banyak berubah meski terkikis waktu bersama dengan 13 tahun persahabatan. Sungguh mengesankan!

Sekian postinganku kali ini. Bagi yang menanti listicleku yang lain, thank you banget. Aku akan berusaha mengulas topik yang menarik dan lebih menginspirasi. Buat yang masih setia baca dan singgah di blog ini, aku juga berterima kasih banget. Tanpa kalian, aku engga mungkin bisa bersemangat menulis πŸ˜€